TAFSIR AL-MUNIR
Tafsir ini
membahas seluruh ayat al-Qur'an dari awal surat al-Fâtihah sampai akhir surat
an-Nâs.
Muhammad Ali
Iyazi dalam bukunya, Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum,
mengatakan bahwa pembahasan kitab tafsir ini
menggunakan gabungan antara corak tafsîr
bi al-Ma'tsûr dengan tafsîr bi ar-ra'yi, serta menggunakan gaya bahasa dan
ungkapan yang jelas, yakni gaya bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi
generasi sekarang ini. Oleh sebab itu, beliau membagi ayat-ayat berdasarkan
topik untuk memelihara bahasan dan penjelasan di dalamnya.
Wahbah
az-Zuhaili menyatakan:
"Tafsir
al-Munir ini bukan hanya sekedar kutipan dan kesimpulan dari beberapa tafsir,
melainkan sebuah tafsir yang ditulis dengan dasar selektifitas yang lebih
shahih, bermanfaat, dan mendekati ruh (inti sari) kandungan ayat al-Qur'an,
baik dari tafsir klasik maupun modern dan tafsir bi al-ma’tsur ataupun tafsir
rasional. Di dalamnya juga diupayakan untuk menghindari perbedaan teori atau
pandangan teologi yang tidak dibutuhkan dan tidak berfaedah.
Tafsir ini
ditulis setelah beliau selesai menulis dua buku lainnya, yaitu Ushul Fiqh al-Islamy (2 jilid) dan al-Fiqh
al-Islamy wa Adillatuhu (8 Jilid). Sebelum memulai penafsiran
terhadap surat pertama (al-Fatihah), Wahbah az-Zuhaili terlebih dahulu
menjelaskan wawasan yang berhubungan dengan ilmu al-Qur'an.
Dalam Muqaddimah,
beliau mengatakan bahwa tujuan dari penulisan tafsir ini adalah menyarankan
kepada umat Islam agar berpegang teguh kepada al-Qu'ran secara ilmiah.
Dalam hal ini,
Ali Iyazi menambahkan bahwa tujuan penulisan Tafsir al-Munir ini adalah memadukan
keorisinilan tafsir klasik dan keindahan tafsir kontemporer, karena menurut
Wahbah az-Zuhaili banyak orang yang menyudutkan bahwa tafsir klasik tidak mampu
memberikan solusi terhadap problematika kontemporer, sedangkan para mufassir
kontemporer banyak melakukan penyimpangan interpretasi terhadap ayat al-Quran
dengan dalih pembaharuan. Oleh karena itu, menurutnya, tafsir klasik harus
dikemas dengan gaya bahasa kontemporer dan metode yang konsisten sesuai dengan
ilmu pengetahuan modern tanpa ada penyimpangan interpretasi.
Secara metodis
sebelum memasuki bahasan ayat, Wahbah az-Zuhaili pada setiap awal surat selalu
mendahulukan penjelasan tentang keutamaan dan kandungan surat tersebut, dan
sejumlah tema yang terkait dengannya secara garis besar. Setiap tema yang
diangkat dan dibahas mencakup tiga aspek, yaitu: Pertama, aspek bahasa,
yaitu menjelaskan beberapa istilah yang termaktub dalam sebuah ayat, dengan
menerangkan segi-segi balaghah dan gramatika bahasanya.
Kedua, tafsir dan bayan, yaitu deskripsi yang
komprehensif terhadap ayat-ayat, sehingga mendapatkan kejelasan tentang
makna-makna yang terkandung di dalamnya dan keshahihan hadis-hadis yang terkait
dengannya. Dalam kolom ini, beliau mempersingkat penjelasannya jika dalam ayat
tersebut tidak terdapat masalah, seperti terlihat dalam penafsirannya terhadap
surat al-Baqarah ayat 97-98. Namun, jika ada permasalahan diulasnya secara
rinci, seperti permasalahan nasakh dalam ayat 106 dari surat al-Baqarah.
Ketiga, fiqh al-hayat wa al-ahkam, yaitu
perincian tentang beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari beberapa ayat yang
berhubungan dengan realitas kehidupan manusia.
Az-Zuhaili
sendiri menilai bahwa tafsirnya adalah model tafsir al-Qur’an yang didasarkan
pada al-Qur’an sendiri dan hadis-hadis shahih, mengungkapkan asbab an-nuzul dan
takhrij al-hadis, menghindari cerita-cerita Isra’iliyat, riwayat yang buruk,
dan polemik, serta bersikap moderat.
Sedangkan dalam
masalah teologis, beliau cenderung mengikuti faham ahl al-Sunnah, tetapi tidak
terjebak pada sikap fanatis dan menghujat madzhab lain. Ini terlihat dalam
pembahasannya tentang masalah "Melihat Tuhan" di dunia dan akhirat,
yang terdapat pada surat al-An'am ayat 103.
Keterangan ini
diruju’dari Kitab:
1.Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa Manhajuhum
karya Sayyid Muhammad Ali Iyazi.
2. Kitab Tarjamah al-Mufassir fi Kutaeb
Shadr Haul at-Tafsir al-Munir.
3. Tafsir al-Munir sendiri.